Tuesday, 21 April 2015

Dream 1: Jalan yang Tak Berujung ....

Entah karena apa, kami sekeluarga diminta untuk boyongan ke suatu tempat. Hari sudah malam ketika kami mulai berbenah dan membawa barang-barang yang menurut kami berharga dan kami butuhkan.

Kami mulai keluar dari rumah dan keluargaku mulai berjalan menuju jalan setapak di depan rumah. Entahlah, kami tidak tahu ke mana semua kendaraan yang kami miliki, sehingga kami harus berjalan kaki. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek, aku pun segera menyeret sendal jepitku dengan kedua kaki. Berjalan terseok-seok sambil melawan rasa kantuk. Tak banyak yang kubawa malam itu.

Banyak warga kampung yang mengikuti langkah kami. Mereka berbondong-bondong membawa barang-barang dan mengajak seluruh anggota keluarganya untuk berjalan. Banyak anak yang digandeng, dan tak sedikit pula yang masih harus digendong ayah atau ibunya.

Kami mulai melangkah ke utara.... Mulai melewati rumah-rumah yang sepi karena mungkin juga sudah ditinggalkan oleh penghuninya untuk bergabung dalam perjalanan ke utara ini. Lampu-lampu bohlam di teras menjadi penolong kami menyusuri jalanan yang sepi dan gelap. Kami baru menyalakan senter dan lampu yang kami bawa saat melintasi tanah lapang atau area persawahan.

Sepertinya sudah semalaman kami berjalan, tetapi rasanya tempat yang kami tuju tak kunjung menampakkan tanda-tanda makin dekat. Kaki mulai pegal, kerongkongan mengering, mata makin ingin terpejam. Dan, syukurlah...rombongan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami mencari tempat paling nyaman untuk sekadar menyandarkan punggung ataupun berbaring sejenak melepas penat dan rasa kantuk. Para ibu menyiapkan bekal makanan yang mereka bawa dan beberapa saling berbagi makanan. Aku duduk di samping nenekku yang raganya sudah renta, namun semangatnya mengalahkan kerentaannya itu. Kami mulai bercakap-cakap. Kutanyakan padanya, akan ke manakah kita semua? Nenekku hanya menjawab, "Ke utara." Tapi, utara itu ke mana? Ke suatu tempat yang seperti apa? Dan, untuk apa? Semua pertanyaan itu hanya berputar-putar saja dalam benakku karena ketika aku ingin mengungkapkannya, rombongan sudah mulai bersiap untuk berangkat.

Ya sudahlah... kuikuti saja ke mana rombongan itu akan menuju....siapa tahu semua pertanyaanku tadi terjawab. Kapan? Entahlah .. karena perjalanan ini serasa tak berujung.

2 comments:

  1. Hihi..Jadi ini cerpen dengan sudut pandang orang pertama, kalau kisah narasi ini berhenti di konflik tanpa ada resolusi ya? *malah analisa* :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang cerita selanjutnya bakalan sering dari sudut pandang orang pertama karena aku cuma menuliskan apa yang kuingat... hehehehehe....

      Delete