Thursday, 30 April 2015

Dream 2: Alice in Wonderland (Part 2)

Lift kami terus melaju. Apa pun tombol yang kami pencet tidak akan dapat menghentikan lajunya. Kami panik, takut, dan sampai-sampai tidak terpikir untuk menjerit. Lift melintasi hutan dan tiba-tiba meluncur makin pelan... pelan.... pelan.... dan akhirnya berhenti. Saat berhenti, pintu langsung terbuka dan kami langsung melompat keluar darinya. Sial! Lift tadi kan transparan, jadi kami bakal kesulitan mencarinya nanti. Ah sudahlah... kami berusaha keluar dari hutan ini dengan berjalan kaki saja. Pasti tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.

Tapi ternyata, keputusan kami adalah suatu kesalahan besar!

Kami tidak tahu harus ke mana untuk bisa kembali ke pusat perbelanjaan. Namun, tetap saja kami melangkah... entah sampai di mana nantinya. Hutan itu sangat lembap karena banyak pohon besar dan rimbun. Kaki kami menginjak lumut yang tumbuh subur... kadang kami terpeleset karena lumut-lumut itu licin. Makin lama, kami makin bingung. Dengan yakin kami menyatakan diri kami tersesat!

Hutan itu makin gelap...makin besar dan rimbun pepohonan, makin sedikit pula cahaya matahari yang dapat menembusnya. Lalu tiba-tiba kami mencium bau busuk.... dan bau itu makin kuat di hidung kami. Terdengar derak ranting yang terinjak .... kami langsung merinding dan jantung berdegup kencang. Siapa itu? Atau mungkin lebih tepatnya, apa itu? Mata kami berusaha menembus kegelapan... tapi percuma, tetap saja yang kami lihat hanyalah kegelapan.

Lalu terdengar bunyi napas terengah-engah.... bau busuk makin menyengat. Dan kali ini....tidak hanya terdengar dari satu arah. Sepertinya napas dan bau busuk itu mengelilingi kami, tapi kami tidak bisa melihat apa itu. Aku hampir pingsan saking takutnya. Tiba-tiba angin berembus lumayan kencang dan sedikit menyibakkan dedaunan.... cahaya matahari pun sedikit menembus tempat kami berada sekarang. Dan.. aku hampir tidak bisa memercayai apa yang kulihat. Ratusan... mungkin ribuan zombie sudah mengepung kami. Kami hampir bersamaan dan unisono berteriak... tapi percuma saja berteriak, toh tak akan ada yang mendengar dan menolong. Aku langsung berlari dan menyeret teman di dekatku. Teman yang lain pun mengikuti kami berdua... entah ke mana harus berlari, yang penting menjauh dari zombie-zombie itu.... Kami berlari makin kencang, tapi rasanya zombie itu juga makin kencang mengejar kami. Kami bagai orang buta yang menerobos rimbunnya hutan dan kadang kaki kami terantuk bahkan terjatuh karena akar-akar pohon yang besar dan menghalangi jalan kami. Lalu aku melihat cahaya matahari menyinari dataran yang letaknya lebih tinggi dari hutan ini... dataran itu ditutupi lumut juga. Aku langsung mengajak temanku untuk berlari ke arah dataran itu.

Dengan susah payah dan jantung yang serasa ingin meledak, kami pun naik ke dataran itu. Para zombie sudah sangat dengan dengan kami. Ketika kami sampai di bawah cahaya matahari itu, para zombie berhenti. Ternyata mereka takut pada cahaya. Tapi tidak mungkin kami bertahan di situ selamanya...ya SELAMANYA! Ah....pasti ada jalan untuk pulang, pikirku. Tangan para zombie berusaha meraih kami. Ketika ketakutan kami memuncak, kudengar desingan dan tepat di samping kami, ada lift transparan tadi dan terbuka. Di dalam lift itu ada seorang teman kami yang ternyata tadi masih tertinggal di pusat perbelanjaan. Langsung kami berteriak supaya dia tidak keluar dan kami bergegas berlari ke arahnya.

Tanpa peduli tangan-tangan zombie itu, kami terus berlari, sampai akhirnya kami berhasil masuk ke lift dan menutup pintunya. "Ayo kita pulang!" teriakku. Temanku yang masih di dalam lift tadi terbengong. "Nanti saja ceritanya!" Lift segera melesat menuju pusat perbelanjaan.

Sungguh lega melihat jalan dari bebatuan yang ditata rapi itu lagi.... sungguh lega melihat pintu besar itu lagi.... sungguh lega......


No comments:

Post a Comment