Wednesday, 22 April 2015

Dream 2: Alice in Wonderland (Part 1)

Suatu pagi yang cerah, aku dan beberapa teman memutuskan untuk menikmati hari itu dengan berjalan-jalan. Matahari yang bersinar cerah, namun tidak terlalu terik membuat kami sangat bersemangat. Setelah menyusuri jalanan kampung dan berkendara di atas kendaraan umum, sampailah kami di sebuat pusat perbelanjaan. Kami turun tepat di seberangnya. Pemandangan sangat apik, klasik, dan indah terhampar di depan kami. Jalan di depan kami tersusun dari bebatuan yang sangat rapi. Pusat perbelanjaan di hadapan kami pun laksana puri bangsawan. Megah. Gagah. Sekaligus cantik.

Banyak orang berlalu-lalang di sekitar kami. Kami memutuskan untuk segera menyeberang dan masuk ke pusat perbelanjaan. Pintu utama bangunan itu sangatlah besar dan tinggi, terbuat dari kayu yang diukir indah. Alangkah terkejutnya kami ketika menemui pemandangan indah lainnya di dalam. Lantai marmer dengan motif klasik nan indah, dinding berlapis marmer, eskalator berkilauan, Seperti bukan sebuah pusat perbelanjaan, tetapi istana megah!

Ketika kami mendongak, bangunan itu menjulang tinggi dan sepertinya terdiri dari ratusan.... entahlah...mungkin ribuan lantai. Tapi, tunggu dulu. Kami harus menuju lantai teratas dan akan sangat memakan waktu jika kami memakai tangga ataupun eskalator. Setelah celingukan, kami menemukan pintu yang kami kenal bentuknya. Yah, lift! Pasti akan sangat mudah dan cepat untuk menuju lantai tujuan kami. Kami bergegas menuju pintu tersebut. Aneh. Pintu ini tidak seperti pintu lift yang biasa kami temui. Pintu ini hampir sama seperti pintu utama tadi, terbuat dari kayu yang penuh ukiran, tetapi ukurannya lebih kecil. Makin dekat, makin kecillah pintu itu. Kami bingung. Lalu bagaimana kami bisa menggunakan lift? Ketika kami sampai di depannya, pintu itu hanya seukuran satu telapak tangan orang dewasa.

Salah seorang temanku lalu iseng. Ia jongkok untuk melihat lebih dekat. Ia dekatkan wajahnya ke pintu dan tiba-tiba, ia seperti tersedot masuk ke dalamnya. Teman-teman yang lain makin penasaran dan melakukan hal yang sama. Satu per satu, mereka tersedot masuk ke pintu itu. Dengan gemetaran, menelan ludah, berkeringat dingin, perlahan aku mulai merendahkan tubuhku. Gerakanku sangat ragu. Aku bingung. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa lagi keluar dari tempat itu? Tapi karena tinggal aku seorang diri di tempat itu, kuberanikan diri untuk melakukan hal yang sama seperti teman-temanku.

Tak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba aku sudah berada di ruang lift. Yah, ternyata memang lift beneran! Lalu, ada suara dari pengeras suara di atas kami. Suara itu memerintahkan untuk memencet tombol nomor lantai tujuan kami. Ketika tanganku yang masih gemetar akan memencet tombol, tiba-tiba dinding lift menghilang! Kami panik. Tapi ketika kami dapat menguasai diri, ternyata kami sadar bahwa dinding itu tidak hilang, namun menjadi transparan. Lalu kuberanikan untuk memencet tombol untuk lantai paling atas. Segera lift itu berguncang dan melesat. Tapi.... ke mana lift ini melesat? Kenapa bukan ke atas? Kenapa mundur? Lift itu pun keluar dari gedung pusat perbelanjaan. Bagaimana kami tahu kalau lift ini keluar gedung? Dinding lift tadi menjadi transparan... ingat kan?

Lift kami terus melaju. Apa pun tombol yang kami pencet tidak akan dapat menghentikan lajunya. Kami panik, takut, dan sampai-sampai tidak terpikir untuk menjerit. Lift melintasi hutan dan tiba-tiba meluncur makin pelan... pelan.... pelan.... dan akhirnya berhenti. Saat berhenti, pintu langsung terbuka dan kami langsung melompat keluar darinya. Sial! Lift tadi kan transparan, jadi kami bakal kesulitan mencarinya nanti. Ah sudahlah... kami berusaha keluar dari hutan ini dengan berjalan kaki saja. Pasti tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.

Tapi ternyata, keputusan kami adalah suatu kesalahan besar! .... to be continued ..... :)

No comments:

Post a Comment