Monday, 20 July 2015

Sophie's Universe Bagian 4-7

Hai! Akhir-akhir ini cuaca lumayan dingin, tapi terasa kering di kulit. Yah, memang sudah saatnya kita menikmati musim dingin di musim kemarau ini. Tiap malam dan pagi pasti sangat dingin, jadi selimut sekarang selalu dibutuhkan di sekitaran rumah. Nah, karena dingin ini, saya juga makin semangat dengan proyek CAL Sophie's Universe dari postingan sebelumnya.

Di postingan terakhir, CAL sudah berjalan sampai bagian ke-3. Dan tak terasa, sampai postingan ini diketik, kami sudah masuk ke bagian ke-9. Wow! Asyik dan penuh tantangan. Makin susah, makin menantang. Untuk bagian ke-4 dan seterusnya ini, saya mulai kehabisan stok benang sisa, jadi saya "terpaksa" membeli benang baru. Yah, supaya bisa tetep pake benang yang sama. Saya masih pakai benang Sweet Cotton Poyeng dari Poyeng Hobby. Kali ini saya membeli tambahan 6 gulung benang dengan warna baru yang belum ada di koleksi saya.


Warna benangnya manis kayak permen. Coba kalau ada rasanya beneran, dah abis di jalan tuh... hehehe... Semoga 6 sekawan ini berhasil melalui Sophie dengan baik dan selamat!!

Saat ini saya baru saja menyelesaikan bagian ke-8 dan belum berhasil memotretnya. Jadi kemungkinan bagian ke-8 akan saya share di postingan selanjutnya.

Ada berbagai cerita ketika melewati tiap bagian. Ada penasaran, bingung, pusing, seneng, bangga, frustrasi, dan bahkan drama. Hahahaha..... karena kami punya grup khusus untuk sharing tiap bagiannya, maka cerita kami juga makin banyak. Jumlah tusukan yang salah, salah masuk ke tusukan sebelumnya, ada tusukan yang terlewat, bahkan ada yang menyublim tiba2 sudah kami lewati satu per satu. Kami pikir, makin tambah angka di belakang kata "bagian/part", kami akan makin canggih. Ternyata perkiraan itu meleset jauh. Justru kami makin banyak melakukan rombak ulang. Kadang putus asa juga sih kalau menemukan kesalahan yang ternyata ada di 2 atau 3 row sebelumnya. Mau dibongkar, kok banyak dan mengingat tenaga dan waktu yang tercurah, kalau tidak dibongkar kok keliatan aneh. Yah, solusi ada di tangan tiap perajutnya... hihihihi.....

Tiap bagian tidak hanya memberikat cerita yang berbeda namun asyik, tetapi juga memberikan keindahan yang tiada terperi (hiperbola banget!). Kami seperti mempunyai anak yang kami pandang dan ikuti setiap perkembangannya. Dari masih mungil, hingga besar. Bagian ke-4 ini keindahannya mulai muncul.


Waktu masuk ke bagian 4 ini, rasanya saya pingin bawa Sophie ini ke mana pun. Memandanginya berlama-lama sambil mengagumi si desainer, Dedri Uys. Membayangkan apa yang ada di pikirannya saat membuat desain ini. Tapi kayaknya tak terjangkau oleh pikiran saya. Hahaha.....

Lalu berkembang lagi ke bagian 5.


Gimana ga makin jatuh cinta liat keruwetan yang indah dan warna yang ngasal tapi pas menyatu bisa begitu indah?

Setelah itu maju lagi ke bagian 6:


Di tahap ini mulai muncul daun mungil di keempat sisinya. Makin cantik dan bikin penasaran.

Lalu, bagian 7:


Sudah terlihat bunga mungil di tahap ini... makin lama makin cantik dan bikin penasaran seperti apa bentuknya. Gambar untuk bagian 8 menyusul di postingan selanjutnya ya.....

Happy hooking!

xxx

Friday, 12 June 2015

Sophie's Universe CAL 2015

Sudah lama saya mengikuti (sekadar membaca dan melihat foto-foto) sebuah mystery CAL (crochet along) di blog Look At What I Made milik Dedri Uys. Sophie's Universe Mystery CAL! Saat pertama melihatnya, mata saya tidak bisa lepas darinya. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama (uhuk!).

(gambar ini diambil dari http://www.lookatwhatimade.net/)

Pengin banget saya bisa ikutan. Tapi, CAL dengan 20 bagian pola.... hmmm... apakah saya bisa? Jangan-jangan hanya semangat di awal, lalu ditinggal begitu saja seperti dua selimut saya. Sampai saat CAL hampir berakhir, saya belum bergerak juga. Hmmm... harus cari teman seperjuangan ini kayaknya. Saya lalu mengikuti group yang disarankan di CAL itu. Banyak yang mengikuti CAL itu dari seluruh penjuru dunia. Dan, lama-lama, saya juga belajar tentang segala kesulitan, tantangan, dan semangat saat mengerjakan bagian demi bagian dari segala postingan dan share mereka. Hmmm.. makin ngiler nih.

Lalu, saya teringat. Dulu pernah berencana mengadakan CAL lagi dengan seorang teman di seberang lautan sana (kami dulu pernah ngadain CAL ini). Nah, muncul ide kalau CAL ini kubuat CAL bersamanya lagi. Tapi mungkin CAL kali ini melibatkan lebih banyak orang supaya lebih rame dan semangat. Lalu, saya menawarkan CAL ini ke beberapa teman dan mereka tertarik ikut. Jadilah kami membuat group sendiri untuk progress CAL ini.

Setelah impian ini hampir terwujud, saya bingung lagi. Pakai benang apa ya? Karena Sophie ini adalah selimut, kalau pakai benang kecil, ukurannya pasti hanya seperti taplak meja. Setelah bongkar-bongkar persediaan benang, ingatlah bahwa saya punya lumayan simpanan benang Sweet Cotton Poyeng. Benang ini bisa didapatkan di Poyeng Hobby. Mereka juga menjual benang jenis lain. Ada banyak benang di sana yang tidak tersedia atau tidak dijual di tempat lain. Poyeng melayani pembelian offline dan online. Bagi kalian yang tinggal di seputaran Jogja, mampir aja ke workshopnya di Jalan Palagan 132 Sleman. Di utara perempatan ringroad Monjali. Jangan sampai kebablasan ya. Ketika sudah sampai di perempatan ringroad Monjali, ambil jalan ke arah utara (atau jalan menuju Hotel Hyatt), lalu pelan-pelan saja sambil menengok ke kiri. Nah, workshop Poyeng ada di kiri jalan tersebut.




Saya suka dengan Sweet Cotton punya Poyeng ini, karena ukurannya yang pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Saya biasanya menggunakan hook 4mm untuk benang ini. Kalian bisa melihat-lihat berbagai pilihan warnanya. Selain benang, ada juga berbagai alat merajut (knit dan crochet). Komplit pokoknya.

Oh ya, balik lagi ke Sophie. Lalu, dengan semangat saya mengambil koleksi saya itu dan mulai membuatnya per bagian. Kami sudah sampai pada bagian 3 minggu ini. Dan kecantikan Sophie sudah mulai terlihat. Warna-warna benangnya memang cantik-cantik. Ah.... sudah tidak sabar sampai pada bagian 20 nih. Semua anggota group saling menyemangati anggota yang masih tertatih membuatnya. Semangart semuaaaaa!

 Part 1

 Part 2

 Mulai part 3

Part 3 selesai


See you in the next part!!

xxxx

Thursday, 4 June 2015

Menikmati Liburan

Ketika pertengahan tahun, jenuh selalu datang menghampiri. Yup! I need to refresh my mind, my body, and my soul. Kadang saat jenuh menghampiri, hal yang biasanya paling menarik buat saya menjadi tak menarik lagi. Terlebih blog ini. Seakan terlupa untuk diisi dan ditulisi.

Maka, berbekal kalender untuk mencari harpitnas, dengan mantap saya ajukan cuti. Awal Juni kemarin kami berdua akhirnya melepaskan diri sejenak dari kesibukan dan rutinitas yang bagai tak ada ujung untuk sejenak bersantai.

Pilihan kami jatuh pada kota Bandung. Selain ingin refreshing, saya dan suami juga berencana untuk berkunjung ke rumah adik. Kami berangkat Jumat malam dengan kereta api dan sampai di Bandung Sabtu subuh. Tak banyak yang kami lakukan di sana, yah... namanya juga pengin bersantai. Jadi, kami benar-benar santai..... cuma makan, tidur, ngemil, tidur lagi...tapi kami juga sempat jalan-jalan sebentar melihat kota Bandung.

Sebelum akhir liburan, kami diajak mengunjungi Dusun Bambu di Lembang. Ketika turun dari kendaraan, udara dingin nan segar langsung menyergap. Saya suka, saya suka! Ah, seandainya Jogja sesegar ini. Lalu kami pun mulai menuju ke gerbang masuk. Ada semacam petak-petak sawah di sebalik pintu masuk, dan tentu saja itu bagian dari area wisata.



Uniknya, pematang di tempat ini terbuat dari anyaman bambu. Jadi dijamin aman dan tidak akan terperosok deh.



Walau sudah bercampur dengan modernisasi alias listrik, tiang lampu ini tetap menarik.





Benar-benar asri tempat ini. Di mana-mana hanya ada pepohonan. Tapi bagi kalian yang malas jalan kaki, atau mengajak orang yang lebih tua, ada kendaraan khusus yang mengantar kalian langsung ke pusat taman.


Saya menemukan obor di antara semak dan pepohonan. Duh, membayangkan berkunjung ke tempat itu pada malam hari pasti sangat romantis ya.


Tempat ini sebenernya resto. Ada beberapa resto yang tersebar di seluruh pelosok taman.


Tapi kami hanya sempat melihat beberapa resto saja. Misalnya ini:


Kalian lihat kan ada gundukan semacam sarang burung di kiri dan kanan jembatan itu? Di dalamnya ada meja dan beberapa kursi untuk bersantap. "Kandang" tersebut baru akan dibuka jika ada yang melakukan reservasi dan bersantap di situ.

Lalu, kami pun menuju taman bunganya. Wow! Tentu saja dengan hawa sedingin ini, bunga2 bakal bermekaran dengan cantiknya.


Taman ini juga memiliki sungai buatan yang tak kalah cantik dengan sungai beneran.




Waktu itu hujan gerimis menambah suasana makin adem. Matahari bersinar dengan ramah pula. Sempurna.

Di tengah taman ada bangunan besar. Tempat itu menjadi semacam foodcourt dan kios-kios yang menjual berbagai pernak-pernik dan oleh-oleh.


Dan, resto terakhir yang sempat kami nikmati pemandangannya adalah ini:


Cottage-cottage itu tentunya menjadi ruang makan resto ini. Pengunjung bisa bermain perahu dan menikmat pemandangan yang asri.

Tak terasa waktu liburan berlalu sangat cepat. Kami pun harus segera kembali ke Jogja. Kali ini memakai kereta pagi, jadi kami bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Tak kalah cantik dengan pemadangan di Dusun Bambu ternyata!

Foto-foto berikut saya ambil saat berada di dalam kereta dalam perjalanan Bandung-Jogja:







Dan, tentu saja, selama perjalanan, sambil menikmati perjalanan, saya sesekali juga melakukan ini:




Nah, sekian liburan kali ini.... sampai jumpa di postingan selanjutnya! :)

Monday, 18 May 2015

Work in Progress

Siapa di antara kalian para perajut yang suka numpuk dan koleksi WIP alias work in progress alias proyek setengah jadi? Semoga bukan hanya saya aja yang hobi ngumpulin WIP... hehehe....

Di kotak penyimpanan, masih ada 2 WIP selimut: ripple blanket dan granny square blanket... duh...entah kapan mereka terjamah. Trus ada 1 WIP yang umurnya lebih lamaaaaaaa daripada 2 blanket itu. Vest! Yap. Itu request suami saya.

Sejak pertama saya belajar knitting atau breien, suami request untuk dibuatkan vest. Kira-kira 5 tahun yang lalu request itu muncul... dan baru tahun ini akhirnya saya bertekad untuk mengabulkannya. Tepatnya 6 Februari 2015 saya mulai membuat vest ini. Warna yang dipilih tentu saja yang netral: abu-abu.


Dan, prosesnya pun berjalan sangat lambat....

Tapi saya sedikit memotivasi diri untuk paling tidak dalam sehari, saya harus menyelesaikan 1 baris saja. Ya! Satu baris per hari. Hihihihi... sungguh target yang memalukan. Dan lambat laun, makin kelihatanlah bentuk si vest ini.

Saat menyelesaikan bagian belakang, ternyata itu memotivasi saya untuk segera merampungkannya (dan supaya bisa garap proyek lain!). Bagian depan diselesaikan lebih cepat dibanding bagian belakang. Dan ketika bagian depan selesai, tinggal menjahit bagian samping dan pundak, muncullah penyakit lama itu: Tergoda dengan proyek lain. Yah, walau sambil nyicil sana-sini, saya tetep berusaha fokus dengan vest ini, karena bulan depan rencananya juga akan ada CAL lagi. Jadi, supaya bisa mengerjakan CAL dengan tenang, saya kebutlah 2 rajutan ini.



Yup! Vest itu tinggal jahit samping dan pundak, kasih pinggiran ribbing, rampung deh. Lalu sepatu itu.... hmmm.... semoga akhir bulan selesai. Dan setelah kedua WIP ini rampung, ga sabar segera mulai CAL! Yipppie! Tapi tentu saja sih, masih harus nyambi ngerjain produk Sacca, mengingat bentar lagi juga ada pameran, jadi harus isi penuh amunisi nih.

Bagi kalian yang juga punya banyak WIP, yuk segera rampungin. Dijamin puas deh kalau selesai, plus lebih enteng ngerjain proyek baru lainnya.

Salam rajut!

Thursday, 30 April 2015

Dream 2: Alice in Wonderland (Part 2)

Lift kami terus melaju. Apa pun tombol yang kami pencet tidak akan dapat menghentikan lajunya. Kami panik, takut, dan sampai-sampai tidak terpikir untuk menjerit. Lift melintasi hutan dan tiba-tiba meluncur makin pelan... pelan.... pelan.... dan akhirnya berhenti. Saat berhenti, pintu langsung terbuka dan kami langsung melompat keluar darinya. Sial! Lift tadi kan transparan, jadi kami bakal kesulitan mencarinya nanti. Ah sudahlah... kami berusaha keluar dari hutan ini dengan berjalan kaki saja. Pasti tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.

Tapi ternyata, keputusan kami adalah suatu kesalahan besar!

Kami tidak tahu harus ke mana untuk bisa kembali ke pusat perbelanjaan. Namun, tetap saja kami melangkah... entah sampai di mana nantinya. Hutan itu sangat lembap karena banyak pohon besar dan rimbun. Kaki kami menginjak lumut yang tumbuh subur... kadang kami terpeleset karena lumut-lumut itu licin. Makin lama, kami makin bingung. Dengan yakin kami menyatakan diri kami tersesat!

Hutan itu makin gelap...makin besar dan rimbun pepohonan, makin sedikit pula cahaya matahari yang dapat menembusnya. Lalu tiba-tiba kami mencium bau busuk.... dan bau itu makin kuat di hidung kami. Terdengar derak ranting yang terinjak .... kami langsung merinding dan jantung berdegup kencang. Siapa itu? Atau mungkin lebih tepatnya, apa itu? Mata kami berusaha menembus kegelapan... tapi percuma, tetap saja yang kami lihat hanyalah kegelapan.

Lalu terdengar bunyi napas terengah-engah.... bau busuk makin menyengat. Dan kali ini....tidak hanya terdengar dari satu arah. Sepertinya napas dan bau busuk itu mengelilingi kami, tapi kami tidak bisa melihat apa itu. Aku hampir pingsan saking takutnya. Tiba-tiba angin berembus lumayan kencang dan sedikit menyibakkan dedaunan.... cahaya matahari pun sedikit menembus tempat kami berada sekarang. Dan.. aku hampir tidak bisa memercayai apa yang kulihat. Ratusan... mungkin ribuan zombie sudah mengepung kami. Kami hampir bersamaan dan unisono berteriak... tapi percuma saja berteriak, toh tak akan ada yang mendengar dan menolong. Aku langsung berlari dan menyeret teman di dekatku. Teman yang lain pun mengikuti kami berdua... entah ke mana harus berlari, yang penting menjauh dari zombie-zombie itu.... Kami berlari makin kencang, tapi rasanya zombie itu juga makin kencang mengejar kami. Kami bagai orang buta yang menerobos rimbunnya hutan dan kadang kaki kami terantuk bahkan terjatuh karena akar-akar pohon yang besar dan menghalangi jalan kami. Lalu aku melihat cahaya matahari menyinari dataran yang letaknya lebih tinggi dari hutan ini... dataran itu ditutupi lumut juga. Aku langsung mengajak temanku untuk berlari ke arah dataran itu.

Dengan susah payah dan jantung yang serasa ingin meledak, kami pun naik ke dataran itu. Para zombie sudah sangat dengan dengan kami. Ketika kami sampai di bawah cahaya matahari itu, para zombie berhenti. Ternyata mereka takut pada cahaya. Tapi tidak mungkin kami bertahan di situ selamanya...ya SELAMANYA! Ah....pasti ada jalan untuk pulang, pikirku. Tangan para zombie berusaha meraih kami. Ketika ketakutan kami memuncak, kudengar desingan dan tepat di samping kami, ada lift transparan tadi dan terbuka. Di dalam lift itu ada seorang teman kami yang ternyata tadi masih tertinggal di pusat perbelanjaan. Langsung kami berteriak supaya dia tidak keluar dan kami bergegas berlari ke arahnya.

Tanpa peduli tangan-tangan zombie itu, kami terus berlari, sampai akhirnya kami berhasil masuk ke lift dan menutup pintunya. "Ayo kita pulang!" teriakku. Temanku yang masih di dalam lift tadi terbengong. "Nanti saja ceritanya!" Lift segera melesat menuju pusat perbelanjaan.

Sungguh lega melihat jalan dari bebatuan yang ditata rapi itu lagi.... sungguh lega melihat pintu besar itu lagi.... sungguh lega......


Wednesday, 22 April 2015

Dream 2: Alice in Wonderland (Part 1)

Suatu pagi yang cerah, aku dan beberapa teman memutuskan untuk menikmati hari itu dengan berjalan-jalan. Matahari yang bersinar cerah, namun tidak terlalu terik membuat kami sangat bersemangat. Setelah menyusuri jalanan kampung dan berkendara di atas kendaraan umum, sampailah kami di sebuat pusat perbelanjaan. Kami turun tepat di seberangnya. Pemandangan sangat apik, klasik, dan indah terhampar di depan kami. Jalan di depan kami tersusun dari bebatuan yang sangat rapi. Pusat perbelanjaan di hadapan kami pun laksana puri bangsawan. Megah. Gagah. Sekaligus cantik.

Banyak orang berlalu-lalang di sekitar kami. Kami memutuskan untuk segera menyeberang dan masuk ke pusat perbelanjaan. Pintu utama bangunan itu sangatlah besar dan tinggi, terbuat dari kayu yang diukir indah. Alangkah terkejutnya kami ketika menemui pemandangan indah lainnya di dalam. Lantai marmer dengan motif klasik nan indah, dinding berlapis marmer, eskalator berkilauan, Seperti bukan sebuah pusat perbelanjaan, tetapi istana megah!

Ketika kami mendongak, bangunan itu menjulang tinggi dan sepertinya terdiri dari ratusan.... entahlah...mungkin ribuan lantai. Tapi, tunggu dulu. Kami harus menuju lantai teratas dan akan sangat memakan waktu jika kami memakai tangga ataupun eskalator. Setelah celingukan, kami menemukan pintu yang kami kenal bentuknya. Yah, lift! Pasti akan sangat mudah dan cepat untuk menuju lantai tujuan kami. Kami bergegas menuju pintu tersebut. Aneh. Pintu ini tidak seperti pintu lift yang biasa kami temui. Pintu ini hampir sama seperti pintu utama tadi, terbuat dari kayu yang penuh ukiran, tetapi ukurannya lebih kecil. Makin dekat, makin kecillah pintu itu. Kami bingung. Lalu bagaimana kami bisa menggunakan lift? Ketika kami sampai di depannya, pintu itu hanya seukuran satu telapak tangan orang dewasa.

Salah seorang temanku lalu iseng. Ia jongkok untuk melihat lebih dekat. Ia dekatkan wajahnya ke pintu dan tiba-tiba, ia seperti tersedot masuk ke dalamnya. Teman-teman yang lain makin penasaran dan melakukan hal yang sama. Satu per satu, mereka tersedot masuk ke pintu itu. Dengan gemetaran, menelan ludah, berkeringat dingin, perlahan aku mulai merendahkan tubuhku. Gerakanku sangat ragu. Aku bingung. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa lagi keluar dari tempat itu? Tapi karena tinggal aku seorang diri di tempat itu, kuberanikan diri untuk melakukan hal yang sama seperti teman-temanku.

Tak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba aku sudah berada di ruang lift. Yah, ternyata memang lift beneran! Lalu, ada suara dari pengeras suara di atas kami. Suara itu memerintahkan untuk memencet tombol nomor lantai tujuan kami. Ketika tanganku yang masih gemetar akan memencet tombol, tiba-tiba dinding lift menghilang! Kami panik. Tapi ketika kami dapat menguasai diri, ternyata kami sadar bahwa dinding itu tidak hilang, namun menjadi transparan. Lalu kuberanikan untuk memencet tombol untuk lantai paling atas. Segera lift itu berguncang dan melesat. Tapi.... ke mana lift ini melesat? Kenapa bukan ke atas? Kenapa mundur? Lift itu pun keluar dari gedung pusat perbelanjaan. Bagaimana kami tahu kalau lift ini keluar gedung? Dinding lift tadi menjadi transparan... ingat kan?

Lift kami terus melaju. Apa pun tombol yang kami pencet tidak akan dapat menghentikan lajunya. Kami panik, takut, dan sampai-sampai tidak terpikir untuk menjerit. Lift melintasi hutan dan tiba-tiba meluncur makin pelan... pelan.... pelan.... dan akhirnya berhenti. Saat berhenti, pintu langsung terbuka dan kami langsung melompat keluar darinya. Sial! Lift tadi kan transparan, jadi kami bakal kesulitan mencarinya nanti. Ah sudahlah... kami berusaha keluar dari hutan ini dengan berjalan kaki saja. Pasti tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.

Tapi ternyata, keputusan kami adalah suatu kesalahan besar! .... to be continued ..... :)

Tuesday, 21 April 2015

Dream 1: Jalan yang Tak Berujung ....

Entah karena apa, kami sekeluarga diminta untuk boyongan ke suatu tempat. Hari sudah malam ketika kami mulai berbenah dan membawa barang-barang yang menurut kami berharga dan kami butuhkan.

Kami mulai keluar dari rumah dan keluargaku mulai berjalan menuju jalan setapak di depan rumah. Entahlah, kami tidak tahu ke mana semua kendaraan yang kami miliki, sehingga kami harus berjalan kaki. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek, aku pun segera menyeret sendal jepitku dengan kedua kaki. Berjalan terseok-seok sambil melawan rasa kantuk. Tak banyak yang kubawa malam itu.

Banyak warga kampung yang mengikuti langkah kami. Mereka berbondong-bondong membawa barang-barang dan mengajak seluruh anggota keluarganya untuk berjalan. Banyak anak yang digandeng, dan tak sedikit pula yang masih harus digendong ayah atau ibunya.

Kami mulai melangkah ke utara.... Mulai melewati rumah-rumah yang sepi karena mungkin juga sudah ditinggalkan oleh penghuninya untuk bergabung dalam perjalanan ke utara ini. Lampu-lampu bohlam di teras menjadi penolong kami menyusuri jalanan yang sepi dan gelap. Kami baru menyalakan senter dan lampu yang kami bawa saat melintasi tanah lapang atau area persawahan.

Sepertinya sudah semalaman kami berjalan, tetapi rasanya tempat yang kami tuju tak kunjung menampakkan tanda-tanda makin dekat. Kaki mulai pegal, kerongkongan mengering, mata makin ingin terpejam. Dan, syukurlah...rombongan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami mencari tempat paling nyaman untuk sekadar menyandarkan punggung ataupun berbaring sejenak melepas penat dan rasa kantuk. Para ibu menyiapkan bekal makanan yang mereka bawa dan beberapa saling berbagi makanan. Aku duduk di samping nenekku yang raganya sudah renta, namun semangatnya mengalahkan kerentaannya itu. Kami mulai bercakap-cakap. Kutanyakan padanya, akan ke manakah kita semua? Nenekku hanya menjawab, "Ke utara." Tapi, utara itu ke mana? Ke suatu tempat yang seperti apa? Dan, untuk apa? Semua pertanyaan itu hanya berputar-putar saja dalam benakku karena ketika aku ingin mengungkapkannya, rombongan sudah mulai bersiap untuk berangkat.

Ya sudahlah... kuikuti saja ke mana rombongan itu akan menuju....siapa tahu semua pertanyaanku tadi terjawab. Kapan? Entahlah .. karena perjalanan ini serasa tak berujung.